Tentang Registrasi Perawat Gigi Indonesia

19 12 2011

Beberapa bulan terakhir ini dunia profesi tenaga kesehatan termasuk perawat gigi dihebohkan dengan urusan sertifikasi dan registrasi menyusul terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1796/MENKES/PER/VIII/2011 yang menyatakan bahwa seluruh tenaga kesehatan selain dokter dan dokter gigi serta tenaga kefarmasian yang akan melaksanakan pelayanan profesinya harus terdaftar atau ter-registrasi pada Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI).

Untuk bisa terdaftar/terregister di MTKI, Permenkes tersebut juga menegaskan bahwa tenaga kesehatan harus memiliki sertifikat kompetensi sebagai bentuk pengakuan kualifikasi/kompetensi dari profesinya. Sertifikat Kompetensi ini bisa diperoleh setelah mengikuti ujian kompetensi yang diselenggarakan oleh institusi pendidikan dan sertifikat kompetensinya dikeluarkan oleh Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi (MTKP).

Untuk tahun 2011 ini, Permenkes tersebut memberlakukan aturan peralihan yang mengatur bahwa untuk tenaga kesehatan yang lulus dari institusi pendidikan tenaga kesehatan pada tahun 2011 dan sebelumnya diberlakukan pemutihan, artinya tanpa uji kompetensi, semua tenaga kesehatan yang memiliki ijazah sebagai tenaga kesehatan (selain dokter, dokter gigi dan tenaga kefarmasian) dapat diberikan Surat Tanda Registrasi (STR) dengan mengajukan usulan ke MTKI melalui institusi pendidikan, organisasi profesi dan atau MTKP.

Setelah Permenkes 1796 ini disosialisasikan baik melalui MTKI, MTKP, organisasi profesi (termasuk Persatuan Perawat Gigi Indonesia) serta institusi pendidikan tenaga kesehatan, ternyata masih banyak juga teman-teman sejawat yang belum begitu memahami proses registrasi tenaga kesehatan ini. Terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul baik itu di facebook-nya PPGI ataupun secara pribadi. Pertanyaan paling menarik adalah : “Bagaimana kalau seorang tenaga kesehatan tidak melaksanakan registrasi ini?”.

Kali ini saya akan coba menjawab pertanyaan tersebut :

1. Registrasi tenaga kesehatan ini merupakan amanat Undang-Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang dijabarkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan, artinya Registrasi ini merupakan kewajiban hukum yang bersifat mengikat

2. Dengan Registrasi ini diharapkan kualitas pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan dapat ditingkatkan karena ada proses jaga mutu melalui uji kompetensi baik melalui ujian exit exam maupun Continuing Professional Development (CPD)

3. Aturan registrasi ini menjadi peluang bagi organisasi profesi untuk membenahi tata kelola organisasi yang diawali oleh pembenahan data anggotanya (registrasi = menjaring data keanggotaan)

4. Aturan registrasi ini juga merupakan antisipasi bagi aturan yang berkenaan dengan akreditasi institusi pelayanan kesehatan  agar bisa menjamin pelayanan yang bermutu juga.

5. Registrasi merupakan dasar bagi pemberian izin kerja tenaga kesehatan atau mudah-mudahan izin praktek yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan anggota profesi.

Demikian yang bisa saya jawab, menggunakan bahasa saya sendiri. Mudah-mudahan bisa menjadi pencerahan.

Salam.





Recap Peristiwa dan Mimpi yang Tertunda

1 11 2011

Sudah setahun lebih sejak saya terakhir menulis di blog saya ini, sebetulnya dalam waktu setahun ini ada banyak cerita yang ingin saya bagi, tapi apa daya sepertinya energi dan motivasi saya lagi tersedot untuk menjalani cerita-cerita itu daripada menuliskannya.

Baiklah, kali ini saya akan mencoba mengumpulkan potongan-potongan cerita itu dalam rekapan peristiwa ini :

Akhir 2010
Saya mengambil keputusan besar dengan meninggalkan pekerjaan lama saya sebagai pengajar, saya berpindah haluan dengan berbagai alasan yang tak bisa saya ceritakan. Intinya keputusan saya telah membawa saya kepada pengalaman-pengalaman baru yang memperkaya batin saya.

Awal 2011
Tahun 2011 saya mulai dengan agak lambat, terus terang pada periode ini saya sempat goyah dan menyangsikan kalau keputusan pindah kerja merupakan keputusan yang tepat, sampai di awal bulan Februari saya mulai merasa bahwa keahlian saya mulai mendapatkan tempat. Sejak saat itu kemudian saya mulai terlibat banyak hal, dan saya mulai belajar banyak sekali hal baru.

Tengah Tahun 2011
Ada perubahan besar dalam kehidupan pribadi saya, jalan kehidupan memang sering tidak bisa diduga, akhirnya saya dan istri memilih untuk pindah domisili dan memutuskan untuk menjadi commuter, pilihan ini juga membawa pengalaman batin yang tak kurang berharga.

Menjelang Akhir 2011
Banyak mimpi yang kemudian dibangun sepanjang perjalanan setahun ini, termasuk bermimpi untuk menjadikan profesi perawat gigi lebih bermartabat dan diperhitungkan dalam pelayanan kesehatan.
Untuk mewujudkan mimpi itu ada banyak sekali kerja yang harus dilaksanakan, diantaranya :
- menyusun landasan core science profesi
- menyusun konsep dan bentuk pelayanan profesi
- menata kembali semua regulasi profesi
- membenahi pola penyelenggaraan pendidikan
- membenahi tata kelola organisasi profesi
- terus menerus menjalin kerja sama dan membangun jejaring profesi

Tentu saja mimpi saya tak akan terwujud tanpa kerja kolektif dari sejawat profesi perawat gigi. Semoga ada diantara ribuan sejawat perawat gigi yang membaca tulisan ini dan mau bekerja bersama saya mewujudkan mimpi saya tadi. Semoga.





Renungan Menjelang Rapimnas PPGI

5 10 2010

Menurut rencana, tanggal 22 sampai dengan 24 Oktober 2010 yang akan datang, DPD PPGI akan menyelenggarakan Rapat Pimpinan Nasional di Jakarta. Rapat ini akan diselenggarakan selain sebagai implementasi rencana kerja pengurus pusat PPGI sekaligus juga dimaksudkan untuk menjawab permasalahan dan tantangan yang berkembang di dalam profesi perawat gigi Indonesia.

Permasalahan yang kini semakin berkembang adalah tuntutan pembenahan pendidikan profesi perawat gigi , peningkatan kapasitas dan profesionalisme  serta peningkatan kesejahteraan profesi perawat gigi Indonesia.

Sudah diketahui bahwa sejak lama sistem pendidikan perawat gigi di Indonesia mengalami distorsi yang cukup membingungkan, terjadinya inkonsistensi antara nomenklatur institusi pendidikan, penamaan profesi serta ruang lingkup keilmuan keperawatan gigi cukup memberikan ganjalan bagi kemandirian serta kemajuan profesi perawat gigi.

Sebagai contoh, ada beberapa kasus kepegawaian yang mempermasalahkan ijazah seorang perawat gigi lulusan D III Kesehatan Gigi dengan gelar Ahli Madya Kesehatan Gigi, hal ini menjadi ganjalan karena formasi kepegawaian berbunyi D III Keperawatan Gigi sementara ijazah dan lembaga pendidikan yang menghasilkannya berjuluk D III Kesehatan Gigi.

Persoalan lain yang lebih substantif adalah berkenaan dengan kurikulum dan keilmuan perawat gigi yang menurut hemat penulis merupakan fondasi atau akar dari sebuah profesi. Apabila seorang perawat gigi ditanya, yang manakah ilmu keperawatan gigi itu ? saya kira jawabannya akan bermacam-macam. Padahal eksistensi keilmuan yang bernama keperawatan gigi yang disepakati semua perawat gigi dan diakui oleh semua stakeholder profesi merupakan prasyarat inti apabila profesi  perawat gigi ingin terus berkembang. Coba perhatikan profesi-profesi lain terutama profesi kesehatan, mereka berkembang menjadi besar dan kompleks karena keilmuannya berkembang juga. Perkembangan keilmuan ini merupakan jawaban dari berubahnya kebutuhan masyarakat yang terus menerus.

Ketidak jelasan keilmuan ini juga berefek terhadap pandangan pihak luar terhadap profesi perawat gigi. Kalau kita tanya seorang dokter, dokter gigi atau perawat tentang pekerjaan perawat gigi? saya kira akan ada banyak jawaban yang berbeda-beda  juga, bahkan mungkin saja banyak yang tidak mengetahuinya. Satu kasus terjadi di sebuah rumah sakit di Jakarta, di mana para perawat gigi yang bekerja di rumah sakit tersebut kemudian diharuskan untuk mengikuti uji kompetensi perawat, kejadian ini disebabkan karena pihak manajemen rumah sakit tidak memahami ruang lingkup keilmuan dan kompetensi perawat gigi sesungguhnya.

Jadi, menurut hemat saya, sudah saatnya kita bergerak bersama untuk membenahi sistem pendidikan perawat gigi di Indonesia, apabila pembenahan ini berhasil, saya percaya bahwa permasalahan lain juga akan terjawab, ketika keilmuan keperawatan gigi telah terwujud, kemudian institusinya semakin mandiri dalam nomenklatur yang lebih jelas, maka pada gilirannya akan berdampak pada peningkatan kapasitas dan profesionalisme perawat gigi, dan PR selanjutnya adalah tinggal membenahi kesejahteraan melalui sistem kepangkatan baru dalam jabatan fungsional perawat gigi serta upaya-upaya pemberian pelayanan keperawatan gigi yang mandiri.

Selamat melaksanakan RAPIM.

Salam PPGI





Citra Diri, Citra Profesi

22 06 2010

Setelah lama kekurangan energi untuk menulis dan memposting sesuatu di blog saya ini, akhirnya pagi ini saya tergerak juga untuk menulis lagi, walaupun isinya bukan hal teknis keperawatan gigi-an yang mungkin lebih bermanfaat langsung bagi teman-teman se-profesi sesama perawat gigi dalam menjalankan tugasnya di klinik, Puskesmas, ataupun Rumah Sakit, tapi mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi inspirasi dalam pengembangan diri yang tidak hanya bermanfaat untuk kehidupan profesi tetapi juga kehidupan yang lebih personal.

Saya bukan seorang ahli personal development atau seorang motivator, bahkan kepribadian saya masih sangat jauh dari kualifikasi tersebut, tapi saya bisa menyebut diri saya sebagai seorang pembelajar yang selalu ingin belajar dari apa yang saya alami dalam hidup dan menjadikan pembelajaran tersebut sebagai motivasi diri untuk terus berubah ke arah hidup dan kehidupan pribadi dan keluarga saya yang lebih baik. Sedikit dari pembelajaran yang telah saya lakukan itu akan saya bagi sekarang.

Berbicara mengenai hidup atau kehidupan yang lebih baik, saya kira tidak ada satu patokan yang seragam bagi setiap orang, setiap orang pasti mempunyai cara pandang yang berbeda terhadap hidup dan kehidupannya, ada yang merasa kebaikan atau hidup lebih baik itu akan tercapai kalau menjadi kaya atau lebih kaya lagi, sementara yang lainnya berpendapat bahwa kehidupannya akan jauh lebih baik kalau orang tersebut bisa menjadi sukses sebagai pejabat atau pesohor, tetapi ada juga yang merasa bahwa hidupnya akan lebih baik lagi kalau bisa mencapai kedamaian secara spiritual.

Untuk saya, hidup dan kehidupan yang lebih baik itu adalah sederhana saja, saya tidak ngoyo untuk jadi kaya raya, saya tidak pernah punya ambisi untuk menjadi seorang pejabat atau tokoh masyarakat yang dikenal dan dipuja puja semua orang. Saya hanya ingin apapun yang saya lakukan bisa bermanfaat buat sesama, apa yang saya dapatkan dari pekerjaan kemudian bisa barokah untuk kehidupan saya dan keluarga saya, dan kehidupan spiritual saya menjadi lebih damai dengan semakin dekat dengan sang Pencipta saya.

Bukan berarti saya tidak pernah punya keinginan duniawi dan jujur saja seringkali saya juga tergoda dan merasa iri dengan kemewahan material yang dimiliki teman-teman saya yang kaya. Tetapi proses pembelajaran saya menuntun saya kepada kesadaran bahwa semua kepemilikan materi itu tidak selalu memberikan rasa bahagia dan atau menjadikan kehidupan yang lebih baik,  dan masih ada sesuatu yang lebih kekal dibanding hanya sekedar pemilikan harta benda, yaitu menjadi seorang pribadi yang baik dan bermanfaat bagi orang banyak seperti yang dicontohkan oleh panutan saya Nabi Besar Muhammad SAW.

Lalu, apa hubungannya ocehan saya di atas dengan judul tulisan ini ? Baiklah, menurut saya, Hidup dan Kehidupan yang lebih baik, menjadi pribadi yang lebih baik itu identik dengan citra diri atau kualitas diri yang nampak dan atau ditampakkan kita kepada dunia. Jadi citra seseorang akan ditentukan oleh apakah dia sudah menjadi pribadi yang baik, atau dia sudah mengelola hidup dan kehidupannya dengan cara yang lebih baik, menjadi lebih  baik disini adalah menjadi pribadi yang bermanfaat dan bernilai atau dalam istilah asingnya adalah menjadi pribadi yang VALUABLE.

Logika sederhananya, untuk menjadi pribadi yang valuable, tentu kita harus mempunyai value atau nilai, nah seringkali orang kehilangan valuenya karena dikuasai emosi dan atau pikiran negatif mengenai orang lain, lingkungannya atau bahkan dunia. Akan sangat gampang kita menyalahkan orang lain atau bahkan Tuhan atas situasi yang tidak menyenangkan yang kita alami. Tetapi apakah dengan menyalahkan orang lain itu kemudian segalanya menjadi lebih baik ? yang sering terjadi begitu kita bersikap negatif dengan terus-menerus mencari kesalahan pihak lain, maka value dari orang tersebut akan menurun atau bahkan hilang sama sekali. Contoh sederhananya,kita akan malas berteman dengan orang yang temperamental dengan emosi yang tidak terkendali, kita akan tersiksa bekerja sama dalam satu tim dengan orang yang value-nya mendekati negatif tersebut.

Saya bukan anti perubahan, tentu saja hal-hal buruk, situasi yang tidak menyenangkan dalam kehidupan apapun itu harus dirubah menjadi lebih baik, tetapi perubahan tidak akan pernah terjadi dengan hanya membesar-besarkan kesalahan orang lain, apalagi dengan mencari kambing hitam. Saya telah belajar bahwa ternyata menciptakan perubahan itu sejatinya harus dimulai dengan cara MERUBAH DIRI SENDIRI terlebih dahulu.

Sekaitan dengan MERUBAH DIRI SENDIRI itu, saya percaya ini ada kaitannya denga Citra Profesi Perawat Gigi. Sepanjang saya menjadi seorang perawat gigi tidak dapat dipungkiri ada suara suara negatif berupa keluh kesah, cercaan, sikap pesimis, bahkan hujatan tentang profesi perawat gigi yang saya dengar dari banyak teman-teman saya sendiri, sesama perawat gigi. Suara-suara negatif itu mau tidak mau telah menjadikan Citra Profesi Perawat Gigi di mata para pelakunya sendiri agak sulit untuk menjadi lebih positif. Banyak teman-teman perawat gigi yang tidak puas dengan profesi atau pekerjaannya, merasa terdzalimi, merasa selalu menjadi subordinat dalam sistem, bahkan merasa menjadi profesi marjinal yang terpinggirkan, dan kebanyakan dari banyak teman-teman saya itu beranggapan semuanya itu karena kesalahan orang lain, karena kesalahan profesi lain, bahkan karena kesalahan Pemerintah.

Pertanyaan berikutnya, apakah semua anggapan negatif tentang profesi perawat gigi itu betul? Saya tidak percaya kalau itu semuanya betul. Kalau kenyataan bahwa profesi perawat gigi ini kurang dikenal, saya percayai itu, persoalan bahwa pendapatan dari profesi perawat gigi itu tidak terlalu besar, saya percaya juga. Tetapi kalau ada yang beranggapan bahwa perawat gigi adalah profesi marjinal yang kurang dihargai, saya meragukan itu, walaupun untuk beberapa kasus, situasi itu bisa saja terjadi.

Nah, pada kasus-kasus di mana profesi perawat gigi tidak berada pada situasi yang tidak menyenangkan dan menjadikan citra profesi perawat gigi ini menjadi tidak begitu “membanggakan” tentu itu harus dirubah, apakah perubahannya bisa terjadi dengan cara menyalahkan orang lain? Saya tidak percaya dengan itu, pada banyak situasi, akan sulit untuk merubah sistem dan orang-orang lain dalam sistem tersebut kalau hanya dengan menyalah-nyalahkan yang berujung pada sikap atau value yang negatif.

Yang paling memungkinkan untuk merubah situasi yang tidak menyenangkan tersebut adalah dengan cara MENGUBAH DIRI SENDIRI menjadi lebih VALUABLE. Bagaimana untuk menjadi lebih valuabel, dan kemudian merasakan keajaiban perubahan yang terjadi di sekitar kita, itu memerlukan pemaparan yang lebih panjang lagi. Tulisan ini bisa jadi hanya menjadi pendahuluan saja. Intinya saya ingin menyampaikan bahwa apabila kita ingin mempunyai citra profesi yang lebih baik. maka mulailah dengan merubah citra diri dengan menjadi orang yang lebih VALUABLE.

Salam.





Bagaimana Menjadi Pemimpin yang Baik

8 01 2010

Sehubungan dengan akan dan telah terpilihnya pemimpin-pemimpin baru disekitar kehidupan saya,  jadi tergelitik nih untuk memposting hal-hal yang berhubungan dengan kepemimpinan. Berikut saya sarikan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik (How To Be A Good Leader) dari buku Winning karya Jack and Suzy Welch. Berikut ringkasannya :

1. Pemimpin Tidak Pernah Berhenti Untuk Terus Meningkatkan Kinerja Organisasi yang dipimpinnya.

Memanfaatkan Setiap Peluang Untuk Mengevaluasi, Mengarahkan dan Membangun Kepercayaan Diri dari dirinya dan semua orang yang dipimpinnya.

Manfaatkan sebagian besar waktu dan energi untuk tiga hal tersebut.
Evaluasi – Menempatkan the right man on the right place, memberi support dan mengeluarkan orang yang tidak memberikan nilai tambah.
Pengarahan – Menjadi pembimbing, memberi kritik, sekaligus membantu bawahannya untuk meningkatkan performa kerjanya dg berbagai cara.
Membangun Kepercayaan Diri – Dengan memberi semangat, perhatian dan penghargaan atas pekerjaan bawahannya. Kepercayaan diri bisa memberi energi lebih untuk motivasi berprestasi.

2. Pemimpin Meyakinkan Orang Untuk Bukan Hanya Melihat Visi, tapi Juga Hidup dan Bernapas dengan Visi Tersebut.

Intinya, pemimpin harus menentukan visi teamnya dan membuat itu menjadi kenyataan. Caranya, pertama adalah buat visi itu sejelas mungkin, mudah dimengerti dan dicerna, nggak perlu jargon-jargon rumit, visi harus terus dikomunikasikan setiap saat dan dengan siapa saja. Masalah umum adalah, visi biasanya dibicarakan di tingkat atasan saja dan tidak menurun ke level bawahan, padahal visi hanya bisa dicapai jika semua orang terlibat.

3. Pemimpin ‘Merasuki’ Setiap Orang, Memompa Energi Positif dan Optimisme.

Pekerjaan bisa amat berat, dan salah satu fungsi pemimpin adalah melawan tarikan gravitasi negatif dan memberikan aura positif dan optimisme, ini adalah teknik psikologis yang teramat bergantung pada pembawaan pribadi sang pemimpin, dan ini harus diasah jika ingin menjadi pemimpin yang berhasil.

4. Pemimpin Membangun Kepercayaan dengan ketulusan, keterbukaan dan penghargaan.

Bawahan harus mengetahu dimana mereka berdiri, pemimpin juga harus terbuka tentang kondisi usaha yang sebenarnya. Saat masa-masa sulit, pemimpin harus fair mengambil tanggungjawab untuk hal-hal yang salah, namun saat masa-masa kesuksesan, pemimpin harus royal dalam memberikan pujian dan penghargaan.

5. Pemimpin Memiliki Keberanian untuk Membuat Keputusan yang Tidak Populer dan Bernyali Besar.

Ada kalanya seorang pemimpin harus mengambil keputusan yang sulit, seperti memecat pegawai, memotong anggaran, menutup proyek. Dia harus menghadapi berbagai tantangan dan kritik. Disini seorang pemimpin tetap harus menjadi pendengar yang baik dan menjelaskan keadaannya dengan jelas, sekaligus terus maju dengan keputusan tersebut jika memang itu yang terbaik bagi perusahaan.

6. Pemimpin Selalu Tergerak oleh Rasa Ingin Tahu, Berusaha Mendapatkan Semua Jawaban dan Penjelasan, juga Mengutamakan Aksi Nyata.

Intinya, menjadi seorang pemimpin bukan berarti menjadi seseorang yang tahu tentang segala detail. Pemimpin jangan segan-segan terlihat seperti orang bodoh saat menanyakan suatu hal yang tidak dimengertinya kepada bawahan. Setiap diskusi haruslah menggunakan kata-kata tipikal, “What If?”, “Why Not?”, “How Come?” yang semuanya membutuhkan penjelasan panjang untuk mendapatkan pengertian yang sejelas2nya. Pertanyaan2 tersebut bisa menaikkan suatu issue yang membutuhkan penanganan aksi nyata.

7. Pemimpin Menginspirasi Pengambilan Resiko dan Pembelajaran dengan Memberi Contoh Nyata.

Kedua hal ini biasanya manis dalam teori saja. Dalam menghadapi keseharian kerja, seoarang pemimpin harus bisa menjadi contoh bagi bawahannya, tegas namun juga tetap rasional (menerima penjelasan) dan tetap memiliki sense of humor, di satu sisi bawahan tidak menganggap pemimpinnya sebagai monster dan mereka nyaman bekerja dengannya namun juga tetap memiliki batasan yang jelas, intinya pemimpin haruslah baik hati namun tetap berwibawa.

8. Pemimpin Merayakan Kesuksesan Bersama-Sama

Membuat suatu perayaan kecil bersama saat suatu terget diraih kedengarannya kurang professional, namun sebaliknya, selalu ada hal-hal yang bisa dirayakan bersama. Perayaan spontan di kantor bisa membentuk atmosfer positif dan rasa dihargai. Jangan sia-siakan setiap momentum yang bisa dirayakan, dalam jangka panjang hal tersebut bisa membuat team lebih solid dan percaya diri. Work is too much part of life not to recognize moments of achievements.

Terakhir Jack Welch, menjawab pertanyaan apakah kepemimpinan adalah bakat atau suatu hal yang bisa dipelajari? Jawabannya adalah, dua-duanya! Beberapa karakteristik seperti IQ dan energy, biasanya bawaan sejak lahir, namun di lain sisi, banyak hal-hal yang biasanya dipelajari dari kehidupan nyata dan akademis, kepercayaan diri di rumah, sekolah, dan bidang olahraga, pengalaman organisasi, pelatihan, interaksi dengan lingkungan sosial dan kerja, bagaimana menghadapi suatu kegagalan dan bangkit lagi, dan lain-lain, dengan waktu dan proses, kepemimpinan adalah suatu hal yang bisa diasah.

SELAMAT MENJADI PEMIMPIN !





Catatan dari pelaksanaan MUNAS V PPGI di Denpasar, Bali

3 11 2009

Rasa lelah barangkali masih terasa oleh setiap peserta dan terutama oleh anggota panita perhelatan akbar MUNAS V Persatuan Perawat Gigi Indonesia (PPGI) tanggal 29 Oktober sampai tanggal 1 November 2009 kemarin. Semua panitia telah bekerja keras untuk mewujudkan acara ini dengan segenap kemampuan yang ada, sementara para peserta kelelahan karena mengikuti sidang-sidang komisi, rapat pleno serta pemilihan ketua umum ditambah kecapaian karena perjalanan wisata baik wisata pemandangan alam dan budaya juga terutama wisata belanja, Bali memang pulau surga, the paradise island.

Saya percaya kenangan manis telah terukir di hati masing-masing peserta MUNAS kali ini, semua perawat gigi yang hadir tentu akan merasa berbesar hati karena ternyata ada begitu banyak harapan dan janji yang bisa digapai di masa depan. Harapan semua insan perawat gigi Indonesia bagi kemajuan dan kejayaan profesi yang tentunya akan membawa kesejahteraan lahir dan batin bagi setiap anggotanya. Janji yang diucapkan oleh pimpinan PPGI yang baru terpilih, janji suci untuk memenuhi harapan semua anggota.

Bentuk dari harapan dan janji itu antara lain adalah terwujudnya regulasi atau payung hukum yang kuat bagi eksistensi profesi dan bentuk pelayanan perawat gigi di tengah masyarakat, ditambah pengembangan-pengembangan keilmuan, keterampilan serta mutu layanan profesi perawat gigi Indonesia serta bertambah solidnya persaudaraan dan silaturrahmi antar anggota profesi PPGI se-Indonesia.

Catatan paling penting yang bisa digoreskan dari pelaksanaan MUNAS V di Bali ini adalah PEMBELAJARAN, bahwa PPGI sebagai organisasi profesi perawat gigi Indonesia harus terus menerus belajar dari segala kekurangan dan kelemahan di masa lalu, jangan cepat puas dan sombong oleh pencapaian-pencapaian yang telah di raih. Para pimpinan dan pengurus yang baru hendaknya bersiteguh untuk terus menjalankan amanat anggota sesuai AD ART, rencana kerja dan kode etik perawat gigi. Tampilkanlah kepemimpinan yang berwibawa yang mempunyai integritas keilmuan dan sikap yang mumpuni.

Akhirnya  untuk seluruh anggota profesi PPGI se-Indonesia pembelajaran yang harus diambil adalah : terus meneruslah memperbaiki diri dengan meningkatkan ilmu, keterampilan, mutu layanan serta terus berpartisipasi aktif dalam organisasi profesi PPGI. Kemajuan dan kejayaan PPGI hanya akan bisa diraih dengan sinergi yang kuat antara pimpinan, pengurus dan seluruh anggota PPGI di seluruh wilayah Indonesia, dan tidak lupa pula kerja sama yang harmonis dengan semua stakeholders organisasi. Jayalah PPGI-ku, majulah perawat gigi Indonesia, sekarang dan selama-lamanya.





Apakah Perawat Gigi itu Sama Dengan Perawat?: Laporan dari acara workshop keperawatan

6 06 2009

Dalam presentasinya di hadapan puluhan peserta “Workshop Kebijakan Pelayanan Keperawatan” di Bandung tanggal 4-6 Juni 2009 kemarin, ketua umum DPP Persatuan Perawat Gigi Indonesia (PPGI) ibu Rina Lucyawati, S.Pd, M.Kes dengan percaya diri mengatakan bahwa perawat gigi itu bukan perawat, karena dua profesi ini mempunyai perbedaan mendasar dalam body of knowledge dan bentuk pelayanannya.

Pertanyaan berikutnya adalah di manakah letak kesamaan dua profesi tersebut sehingga perawat gigi dikelompokkan ke dalam tenaga kesehatan keperawatan (Permenkes RI No.1035/1998) ?, dengan serius ibu Lucy (Panggilan ibu ketua umum DPP PPGI) menjawab bahwa perawat gigi memiliki kompetensi dalam ruang lingkup pelayanan klinis yang dinamakan asuhan kesehatan (keperawatan?) gigi.

Jadi jelas bahwa perawat gigi bukan perawat tapi tetap termasuk ke dalam kelompok keperawatan bersama-sama dengan bidan. Syukur Alhamdulillah, pernyataan tersebut tidak lantas menjadi polemik dalam workshop tersebut, bahkan saudara-saudara kita para perawat dan bidan dari organisasi profesi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) serta Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menyambut hangat bahkan merangkul para perawat gigi untuk bersama-sama membangun kesehatan masyarakat Indonesia di bawah naungan Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan, Depkes RI. walaupun secara formal Direktorat tersebut belum mempunyai sub direktorat khusus untuk membina keperawatan gigi, tetapi seperti dijanjikan oleh Direktur Bin-Yan keperawatan Bapak Ilham Setyo Budi, S.Kp, M.Kes, perawat gigi akan di bina dan dikembangkan oleh Direktorat tersebut.

Sungguh penyelenggaraan workshop kebijakan pelayanan keperawatan tahun 2009 ini telah menggulirkan sebuah harapan baru bagi profesi perawat gigi, harapan akan eksistensi profesi yang lebih baik, serta pembenahan-pembenahan di segala bidang yang pada gilirannya ditujukan untuk kesejahteraan dan kebanggaan semua anggota organisasi profesi Persatuan Perawat Gigi Indonesia. Sebagai contoh pada Rencana Tindak Lanjut dari workshop tersebut juga dengan eksplisit dinyatakan bahwa langkah pembinaan berikutnya dari Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan adalah sosialisasi dan revisi kebijakan-kebjikana seperti standar pelayanan asuhan kesehatan gigi, standar profesi serta sistem remunerasi, disamping itu juga dukungan akan pembenahan sistem pendidikan perawat gigi termasuk perubahan kurikulum dan taksonomi institusi.

Selanjutnya, keberhasilan tindak lanjut dari acara workshop tersebut akan tergantung dari beberapa faktor, yang pertama tentu saja komitmen dari Departemen Kesehatan RI dalam hal ini Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan untuk membuktikan janjinya dalam membina, memberikan advokasi serta mengembangkan profesi perawat gigi. Faktor selanjutnya adalah tentu saja komiten dan kerja keras dari organisasi profesi PPGI sendiri. PPGI tidak boleh terlena hanya karena sambutan hangat saudara-saudara kita para perawat dan bidan, PPGI harus terus menerus melanjutkan upaya-upaya lobby serta menunjukkan partisipasi dan prestasinya dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.

Partisipasi dan prestasi yang bisa ditunjukkan oleh segenap anggota PPGI adalah dengan senantiasa bekerja keras di area dan instansi-nya masing-masing, pantang menyerah, dan tidak hanya membesar-besarkan konflik tanpa tindakan nyata. Akhirnya, ada begitu banyak pekerjaan rumah PPGI yang harus diselesaikan, oleh karenanya mari bahu membahu membangun profesi perawat gigi Indonesia. Merdeka!!





Basic Package of Oral Care

18 03 2009

Baru-baru ini penulis men-download sebuah monograph yang diterbitkan oleh the WHO Collaborating Centre for Oral Health Care Planning and Future Scenarios  College of Dental Science University of Nijmegen, The Netherlands, berikut disajikan rangkumannya :

A. Latar Belakang

Perawatan dan pengobatan gigi dan mulut masih dianggap sebagai layanan sekunder/tertier yang mahal di berbagai negara, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan di tengah-tengah masyarakat yang kurang beruntung. Sementara itu masalah tingginya angka kesakitan gigi dan mulut masih merupakan beban kesehatan masyarakat yang dapat menurunkan kualitas kehidupan masyarakat serta menjadi faktor risiko masalah-masalah kesehatan yang lebih kompleks.

Basic Package of Oral Care / BPOC (Paket Dasar Perawatan Kesehatan Gigi dan Mulut) merupakan sebuah konsep program yang dihasilkan setelah melalui proses penggabungan konsep-konsep dan pendekatan-pendekatan yang telah lama dikembangkan pada dekade terakhir ini. Landasan dasar dari BPOC ini adalah efektifitas program kesehatan gigi dan mulut yang acceptable (gampang diperoleh), feasible (layak diselenggarakan) dan affordable (murah) yang terutama ditujukan bagi kelompok masyarakat yang kurang beruntung.

Sebagai landasan filosofis dari BPOC ini adalah filosofi Primary Health Care (PHC) yang menegaskan pelayanan pencegahan penyakit yang murah, berkesinambungan dan dilaksanakan berdasarkan kebutuhan sebenarnya (real) dari masyarakat sasaran pelaksanaan program.

B. Tujuan BPOC

Menyediakan layanan kesehatan gigi dan mulut bagi masyarakat yang lebih terjangkau.

C. Komponen / Kegiatan BPOC

1. Oral Urgent Treatment (OUT) for the Emergency Managementof oral pain, infection and Trauma : Perawatan Mulut Gawat Darurat untuk penata laksanaan kesakitan gigi dan mulut, infeksi dan trauma

Intervensi dalam kompenen OUT ini antara lain :

  • Pain relief = tindakan mengurangi rasa sakit melalui tindakan palliative drug therapy dan operative treatment
  • First aid for oral infections and dento-alveolar trauma = Pertolongan Pertama pada infeksi gigi dan mulut serta trauma dento-alveolar
  • Referral of complicated cases = Rujukan untuk kasus-kasus yang kompleks

2. Preventing Dental Caries through Affordable Fluoride Toothpaste = Pencegahan Karies Gigi melalui Pemberian Pasta Gigi ber-fluoride

3. Managing Dental Caries through the Atraumatic Restorative Treatment (ART) Approach = Menangani karies gigi melalui pendekatan perawatan restoratif tanpa trauma (ART)

D. Langkah-Langkah Pelaksanaan Program BPOC

1. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan sebelum memulai program :
Identify local partner (Kerjasama lintas program dan lintas sektor)
•Obtain approval from decision-makers
(Perizinan)
•Consider the interests of all parties
(Kesepakatan semua pihak -MOU)
•Understand the local situation
(Penyelenggaraan program sesuai situasi setempat)

2. Proses Perencanaan :

•Write project protocol (Penyusunan propsal & protokol)
•Formulate measurable objectives (Tentukan tujuan yang terukur)
•Design evaluation (Rancang teknik evaluasi)
•Consult all parties involved (Konsultasi semua pihak yang terlibat)
3. Implementasi, monitoring dan evaluasi program

•Monitor activities, maintain communication and tackle problems (Monitoring seluruh proses kegiatan)
•Assess the outcomes (Menilai hasil kegiatan)
•Report the findings (Laporan)
4. Tindak Lanjut setelah Evaluasi

•Abandon the program (Tinggalkan program apabila tidak berhasil)
•Modify the program (Perbaiki kekurangan program)
•Continue and expand program. (lanjutkan dan kembangkan program)

Demikian rangkuman sederhana dari monograph BPOC tersebut, penjelasan teknis secara panjang lebar silahkan download ke link yang disediakan di atas. Semoga bermanfaat.





Global Direction on Oral Health Care

16 03 2009

According to the WHO Global Oral Health Programme (ORH) published on official WHO website , the main emphasis of oral health care development has been focused on oral health promotion and oral disease prevention. Furthermore, the WHO has set up  a global strategy for prevention and control of these diseases, endorsed in 2000 by the Fifty-third World Health Assembly (resolution WHA 53.17).

There are several notions that make up the policy basis on oral health development.Those are as follow:

  1. Oral health is integral and essential to general health,

  2. Oral health is a determinant factor for quality of life

  3. The interrelationship between oral and general health is proven by evidence
  4. Proper oral health care reduces premature mortality

Based on the global situation of oral health, therefore the WHO has developed some priority actions that include several interventions  on some areas including:

  1. Managing Risks to oral health and intervention to all people

  2. Implementing oral health care programmes to important target groups such as school children and youth as well as Elderly people

  3. Interventions on HIV/AIDS and oral health

  4. Improving the quality of Oral health services

  5. Improving Information systems on oral health care services

To sum up, the global direction of oral health care has been focused on continuous improvement of oral health in the 21st century, Therefore, the new strategies of global oral health care have been reoriented in order to improve the quality of oral diseases prevention an oral health promotion programmes.

sources :

http://www.who.int/oral_health/en/


SPOTLIGHT
Oral health databases
Now updated periodontal information available from Niigata University, Japan. Also available is data from more than 130 countries from Malmö University, Sweden.
More information


EVENTS
Past events
Conference products and meeting reports.
More information


CONTACT US
Oral Health Programme
Questions, comments and feedback.
More information


KEY WHO INFORMATION

Director-General
Director-General and senior management

Governance of WHO
WHO Constitution, Executive Board and World Health Assembly

Media centre
News, events, fact sheets, multimedia and contacts

International travel and health
Publication on travel risks, precautions and vaccination requirements

World Health Report
Annual report on global public health and key statistics





Perawat Gigi Indonesia, Mau Ke Mana?

2 03 2009

Barangkali akan ada bermacam-macam interpretasi terhadap judul tulisan kali ini, yang jelas maksud awal dari  judul tersebut adalah menyajikan pertanyaan retoris, yang jawabannya tentu bisa sangat panjang dan mungkin juga dapat menimbulkan perdebatan yang seru.

Sebenarnya, latar belakang postingan kali ini adalah karena saya mendapatkan pertanyaan ini secara verbal pada rapat yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Gigi UNPAD pada hari Jum’at 27 Februari 2009 yang baru lalu. Rapat yang secara umum membahas mengenai Grand Strategy Pelayanan Kesehatan Gigi di Indonesia ini juga membahas mengenai eksistensi perawat gigi sebagai salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pelayanan kesehatan gigi di Indonesia.

Inti pertanyaannya adalah bentuk pelayanan profesi perawat gigi Indonesia ini mengarah ke mana? apakah dental nurse, dental assistant, dental hygienist atau dental therapist?. Jawaban saya adalah, ditinjau dari kurikulum pendidikan yang diterapkan di Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Bandung, Perawat Gigi Indonesia “maunya” diarahkan untuk menjadi dental assistant, dental hygienist dan dental therapist sekaligus dalam satu tingkat satuan pendidikan yakni Diploma III Kesehatan Gigi, sedangkan dari sudut pandang organisasi profesi, perawat gigi Indonesia telah seringkali menyebut dirinya sendiri sebagai Dental Nurse.

Terlepas dari sudut pandang penamaan profesi yang seringkali dimaknai terlalu superfisial, sebenarnya ada hal yang lebih fundamental yang semestinya dapat menjawab pertanyaan mengenai arah langkah perawat gigi Indonesia ini. Sebagaimana sejatinya sebuah profesi yang idealnya dilandasi oleh batang tubuh keilmuan (body of knowledge) yang khusus, maka arah langkah pelayanan profesi perawat gigi Indonesia juga semestinya berdasarkan Body of Knowledge khusus yang dikembangkan dalam pendidikan perawat gigi, dan kemudian dijadikan landasan pengembangan pelayanan profesi perawat gigi di tingkat operasional (institusi pelayanan kesehatan gigi dan mulut).

Pertanyaan selanjutnya yang mungkin timbul adalah, apakah perawat gigi Indonesia sudah mempunyai body of knowledge yang recognized dan spesifik ? Sebagai praktisi pendidikan perawat gigi, saya bisa menjawab dengan yakin : BELUM. Kenapa?.. Karena saya sendiri tidak dapat mengemukakan satu buktipun bahwa perawat gigi Indonesia telah dan sedang dididik menggunakan suatu landasan keilmuan khusus yang hanya dimiliki oleh Perawat Gigi.

Selama ini, faktanya perawat gigi Indonesia dididik dan dilatih menggunakan landasan ilmu kedokteran gigi ( Dentistry), dan racikan struktur program yang merupakan gabungan ilmu-ilmu lain seperti Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (Nursing). Perawat gigi Indonesia belum dibesarkan dalam pendidikan dengan kurikulum yang berbasis ilmu khusus yang diakui sebagai Ilmu Keperawatan Gigi.

Selanjutnya apakah mungkin perawat gigi Indonesia mengembangkan Ilmu Keperawatan Gigi yang valid, reliable serta recognizable?. Jawaban saya adalah : Mengapa tidak? Karena secara internasional, keilmuan perawatan gigi selain Dentistry sudah lama hadir dan “eksis”. Faktanya, di dunia internasional telah lama dikenal profesi Dental Hygienist yang dalam pelayanan profesinya menggunakan basis keilmuan Dental Hygiene, atau profesi Dental Assistant yang melaksanakan tugas profesinya menggunakan keilmuan Dental Assisting.

Jadi, sesungguhnya perawat gigi Indonesia tidak usah khawatir kekurangan referensi dalam pengembangan keilmuan dan profesinya. Walaupun untuk membangun keilmuan dan profesinya itu harus memenuhi satu syarat pasti yaitu dengan cara membangun link dengan dunia internasional, jadikanlah perawat gigi Indonesia ini sebagai bagian dari masyarakat kesehatan (keperawatan gigi) Internasional. Adopsi lah ilmu Dental Hygiene dan Dental Assiting ini dalam sebuah konsep yang dikembangkan menjadi konsep keilmuan Keperawatan Gigi Indonesia.

Kesimpulannya, untuk menjawab pertanyaan kemanakah arah langkah perawat gigi Indonesia, jawabannya adalah : Tergantung dari kemauan organisasi profesi dan institusi pendidikan perawat gigi sendiri. Maukah kedua organisasi ini bekerja bersama untuk menentukan arah keperawatan gigi selanjutnya?.. Bersediakah kedua organisasi ini bekerja sama dalam menentukan basis keilmuan perawat gigi yang pada gilirannya digunakan sebagai basis bentuk pelayanan perawat gigi di lapangan, dan secara operasional, ilmu keperawatan gigi ini merupakan landasan utuh dari pembentukan kompetensi perawat gigi Indonesia. wallahu a’lam bish-shawab








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.